PERTANDINGAN YANG TAK PERNAH BERAKHIR

By: Tiurida Hutabarat

Sering tidak disadari pertandingan itu dimulai, bendera kuning dikibarkan ketika perbandingan sosial dijadikan paramenter untuk mengukur thermometer kepuasan, kesenangan, kesuksesan dan kebahagian.Awalnya mungkin kita hanya menyuruh anak giat belajar supaya bisa masuk sekolah atau universitas yang baik. Kemudian kita sadari bahwa semua orang tua juga menganjurkan hal yang sama pada anaknya. Setelah itu, mungkin kita menambah les computer, matematika, fisika, inggris dan banyak lagi supaya si anak lebih baik dari rata rata, tetap dengan alasan supaya bisa masuk sekolah atau universitas terbaik. Ternyata orang tua yang lain juga melakukan hal yang sama. Kemudian kita mungkin menambahnya dengan memberikan computer agar si anak bisa kerja lebih cepat, lebih baik dan lebih unggul, masih dengan alasan yang sama untuk bekal masuk sekolah atau universitas terbaik. Dan orang tua yang lainpun sama dengan kita melakukan hal yang sama. Dan dalam proses tsb, secara tidak sadar kita sudah menjadikan sekolah atau universitas terbaik itu adalah penjara dimana dia bisa belajar banyak tentang pengetahuan tetapi sedikit sense untuk bisa mengerti kesusahan orang lain. Anak yang kita cintai untuk tidur larut malam dan bangun pagi dengan perasaan lelah. Mengalahkan dunia luar tetapi bukan kebiasaan buruk diri sendiri. Kita tidak menyadari itu semua, mungkin yang selalu dalam kesadaran kita adalah pertandingan merebut sekolah terbaik yang belum berakhir. Masih 0 VS 0 dan mungkin makin seru dengan banyak penonton yang ingin mengetahui akhir pertandingan. Penonton yang berkomentar: ‘ Itu lho bu, anaknya si B juara A”, “ Anaknya si C, sekarang sudah bisa beli mobil sendiri.

Pertandingan yang kedua bisa jadi dimulai, ketika kita sebenarnya cukup nyaman dengan pekerjaan kita, dengan lingkungan kerja kita tetapi mulai ada keinginan untuk mendapat ‘ikan’ yang lebih besar, gaji yang lebih besar, kesempatan karir yang lebih besar. Kita mulai mencari dan berhasil mendapatkan kolam baru yang tentu lebih besar dengan ikan yang lebih besar juga. Di kolam baru ternyata, ada ikan yang lebih besar dari kita. Ikan yang kita miliki sekarang jadi kelihatan kecil dan tak berarti, kolam dia juga lebih besar. Mulailah pertandingan menghangat. Kursus malam mulai dicari, keterampilan hard skill dan soft skill termasuk mendekati atasan dan melobi mulai dipelajari dan dipraktekan. Kita berhasil menangkap si ikan yang dimiliki teman itu. Tetapi ada lawan baru, dengan ikan yang lebih besar dan kuat. Kita lakukan lagi usaha yang lebih keras, waktu yang lebih banyak, jejaring yang lebih lebar dan sesungguhnya kita lupa bahwa ikan yang kita miliki itu sudah bisa memberikan rumah yang lebih besar tetapi jarang kita tempati, liburan yang lebih jauh tetapi susah kita nikmati, layanan kesehatan yang prima tetapi selalu merasa kurang sejahtera. Masih ada lawan, pertandingan belum selesai, ini yang selalu kita ingat setiap memulai hari baru. Lawan yang sebernarnya akan selalu ada dengan makin tanpa batasnya dunia kita, dengan makin seringnya manusia ke bulan tetapi makin berkurang kita mengunjungi tetangga. Dengan makin luasnya dunia luar kita dan makin sempitnya dunia dalam kita.

Kapan pertandingan akan diakhiri?

Jumat sore, ketika ada pertemuan orang tua guru, dan kebetulan dapat giliran terakhir. Si guru yang bijak berkata, anakmu belum bisa baca, belum bisa memegang alat tulis dengan baik, menggunting dengan lurus tetapi dia selalu riang, “happy go lucky” person, berteman dengan baik, tidak menunjukkan kekecewaan waktu tidak bisa dan tidak malu bertanya kalau tidak tahu. And it is enough, don’t break it, katanya . Apakah karena nasehatnya atau karena tidak ada penonton lain, ibu lain yang berkata: “anakku sekarang sudah bisa menggambar, seperti Van Gough waktu kecil”, tetapi perkataannya begitu mengena” “YA! It is more than enough untuk menjadi apa saja dikolam yang dia pilih, kehidupan yang dia pilih”. Tiba tiba saja, komentar si sulung :” I have a life” ketika dia menolak untuk les bahasa mandarin meskipun sudah diceramahi tentang pentingnya menguasai bahasa mandarin di era yang akan datang, menjadi wake up call “Ya, pertandingan itu harus diakhiri, karena hidup bukan berarti ikan di kolam besar, di universitas terbaik, tetapi ikan di kolam yang pas. Ikan yang bisa menjadi dirinya s dan merasa sejahtera di kolamnya”

Tinggalkan sebuah Komentar