by Tiurida Hutabarat
Celana jeansku sudah perlu diganti, dan sayangnya tidak punya waktu terlalu banyak untuk memilih dan membawanya pulang. Masih banyak things to do di sore ini. Makan malam, memandikan anak dan memerika PR mereka. Memilih jeans bukan terlalu sukar, menurutku. Karena model, warna, fungsinya hampir standart. Paling paling hanya menanyakan ukuran, mencoba ke kamar pas dan membayarnya. Dalam waktu 20 menit selesai sudah. Ternyata aku salah, masuk ketoko jeans 5 tahun yang lalu berbeda dengan sekarang. Sambutan pramuniaga yang tampak professional dan mulai menanyakan model apa yang kumaui, membuatku kebingungan. Model apa? Maksudnya apa? Jeans ya, jeans, warna biru dengan model kaki seperti pipa yang semata kaki itu. Kelihatan si penjaga mungkin mulai mengerti, bahwa calon pembeli saat ini adalah jenis alien yang tidak pernah mengikuti model terbaru, yang lagi fashion. Mulailah dia membuka katalognya dan menjelaskan tentang boogie, tentang loose and fit tentang strech, tentang boot, tentang yang lagi fashion saat ini, trend yang akan datang dll. Penjelasan yang professional ini bukannya memudahkanku untuk memilih. Kebingungan baru mulai muncul, sekarang aku nggak tahu lagi mau beli jeans apa. Supaya tidak salah memilih dan mengetahui dengan pasti celana jeans mana yang tepat untukku, cara satu satunya yang terpikir saat itu adalah keluar masuk kamar pas. Kebingungan dan kecemasan baru muncul. Ternyata beberapa celana yang kucoba menjadi menarik untuk dibawa pulang. Model boogy, menutupi banyak lemak dipinggul ini tapi sekarang sudah kurang fashion. Model boot cocok dengan bluls yang baru kubeli, tapi masalah warna dan pertanyaan apakah akan bertahan lama mulai mengganggu pemilihan? Beli dua duanya? Wah… bukan solusi, memberatkan anggaran belanja bulan ini!
Pilihan harus dilakukan dan waktu bolak balik tukar pakaian sudah lebih dari 1 jam. Disaat kriitis seperti ini sang pramuniaga professional itu mengeluarkan jurus pamungkasnya bisa ”refund”.
Akhirnya, mungkin karena sudah kelelahan secara emosionil atau waktu yang makin berlari, atau mungkin juga jurus pamungkas sang pramuniaga “Refund”, putusan dilakukan. Sementara kubawa yang boogie itu dulu dan kalau ternyata kurang cocok saat dicoba dirumah, kukembalikan.
Ada jurus pamungkas , ”UN DO”, kata seorang teman yang menasehatiku jangan takut untuk mengeksplore software adobe photoshop. Main main, coba coba dan lihat hasil Berjuta alternative dari tangga trial and error, akan menghasilkan berjuta image photo. Pilih yang paling bagus, kalau tidak cocok, kalau salah, kalau ragu ragu. Just push the undo button. Dan voila…. Bersih seperti awal, halaman baru dan let’s start with the new insting untuk mencoba lagi, hapus lagi, start lagi, sampai image photo yang diinginkan.
Seorang teman, sedang berkeluh kesah, perkawinannya membosankan dan sang pasangan saat ini dia rasakan ternyata tidak cocok dengan dirinya. Kurang romantis, mau menang sendiri, terlalu sibuk dengan pekerjaan, dan lain lain yang daftarnya bisa panjang sekali. Disisi lain, saat ini dia lagi menjalin hubungan dengan pria idaman lain yang sebenarnya teman lama, teman semasa kuliah dulu. Reuni yang terakhir, mendekatkan hubungan mereka kembali yang sempat terputus. Sejak itu hubungan makin akrab, ditambah dengan bumbu kenangan manis saat dulu yang mempersedap dan menambah selera hubungan lama yang terjalin kembali tsb. Resep baru yang mulai muncul di teman ku itu, resep yang berjudul ‘SEANDAINYA SAJA”, . Dia sangat ingin mencoba resep barunya tersebut dan tergoda menggunakan UNDO BUTTON di perkawinanannya. Menghapus dan memulai yang baru sampai menghasilkan image yang sesuai dengan yang diinginkannya, image dalam bentuk harapan pria yang bisa memuaskan hatinya.
Kemajuan IT, masyarakat yang makin permisif dan prinsip hidup hedonism menjadi ‘window’ yang sangat enak untuk bermain ‘undo’ botton. Dimulai dari iseng iseng, main main, klik sana klik sini, chatting, kenalan dan lho koq ada yang nyangkut ya? Enak diajak ngobrol dan bercanda. Pengetahuannya luas, humornya berselera, kelihatannya sabar dan romantis lagi. Voila….bisa dicoba, tidak ada resiko, muka saja tidak tahu dan nama saja mungkin samaran. Dan kalau pada akhirnya sang image foto tidak cocok untuk Pulitzer prize, atau keluar masuk kamar pas itu tidak membawa sang alien dengan jeansnya menjadi model yang baru lahir di blantika fashion Milan -Italy . Masih ada jurus pamungkas “Un do button”
Kebebasan untuk menjadi apa saja, dan memulai dan mengakhiri kapan saja sesuai dengan selera hati merupakan alasan yang sangat tepat untuk bermain main dengan exit door dan yang sejenisnya “un do ” button, refund, unscribe ini. Kebebasan yang seringkali kebablasan dan dibayar mahal oleh hubungan yang hancur, hati yang terluka, waktu yang tidak produktif dan tentu saja penyesalan. Karena pada akhirnya, tidak ada sesuatupun yang begitu sempurna, yang sesuai dengan keinginan, yang memenuhi semua cita rasa. Hidup akhirnya persoalan pandai pandai membebaskan diri dengan melihat kebawah sehingga kita bersyukur akan hari yang kita lewati, akan kehidupan yang kita miliki dan kapan harus lihat ke atas sehingga kita tetap punya semangat menikmati semua dunia baru, semua petualangan, semua cita cita, semua image photo yang siapa tahu dapat Pulitzer prize. Jadi untuk apa sebenarnya ”UN DO’ button?