By: Tiurida Hutabarat HCMC, 11 December 2007
Ini hari yang panjang… dari seorang ibu yang dirumah saja. Pada kenyataannya tidak di rumah saja, karena justru harus ke luar rumah untuk bisa main peran. Ketemu guru, ketemu penjual di pasar, ketemu ibu ibu

dari teman anak atau suami.
Nyaris hampir tidak ada tempat berada dimana si ibu dipanggil namanya. Kalau tidak ibu yang orang Indonesia, ibu yang tinggal di jalan bla bla, mamanya A, atau Istri si B. Apalagi kalau nama sendiri ini susah diucapin oleh lidah lidah bule, atau lidah vietnam. Jadilah mereka lebih menyukai memanggilku madame from Indo. Jordan’s mom atau Holland’ wife atau Sam’s mom. Ada beberapa yang mau bersusah payah mengingat dan memanggil nama yang dinasi putih dan merahkan oleh orang tua ini dengan Toroi, Tur, Dior yang mirip mirip dengan Tiur pada awal awal perkenalan. Tapi waktu membuktikan mereka yang berhasil memanggil dengan benar adalah mereka yang kemudian menjadi teman akrab.Apalah arti sebuah nama? Katanya, bahkan Shakespeare sendiri diisukan tidak bisa mengeja namanya dengan baik. Mungkin pada era dia, nama memang tidak begitu penting. Karena hanya ratu yang penting, yang berkuasa, yang menetukan. Yang lainnya adalah rakyat biasa yang bisa menjadi luar biasa atau dikenal karena kemurahan hati ratu sang penguasa. Kemurahan hati yang muncul karena karena karyanya yang luar biasa. Tercipta melalui jalan panjang, dibayar mahal oleh keringat dan airmata si pencipta. Karya karya yang kemudian terbukti menjadi karya yang abadi, tak luntur dimakan jaman. Jaman memang sudah berubah, sang penguasa tunggal sudah ketinggalan jaman. Hasil karya bisa langsung ada, dipublikasikan tanpa diedit, tanpa biaya dan dibaca oleh siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Entry barrier untuk masuk ke dalam”board untuk dikenal” hampir tidak ada, terlebih dengan kemajuan IT ini. Blog blog baru dengan isi yang bermacam macam, dari buku harian, hobi, resep atau apa saja bisa dengan mudah didapat dan diakses oleh siapa saja. Jalan panjang yang penuh airmata dan keringat itu sudah tidak ada lagi, Karya mereka? Ada yang baru buka dibuka lahannya lalu ditinggalkan, ada yang seumur jagung dan mungkin sedikit lebih lama dari itu. Proses yang dipotong hampir menjadi gaya hidup dari penduduk yang tinggal di kota besar, yang mayoritas mengaku lebih berpendidikan dan lebih memiliki status. Lihat saja pop mie yang instant untuk sarapan pagi hampir selalu ada di lemari makanan. Mudah, murah dan cepat katanya. Hampir tidak ada lagi ibu ibu yang mau capai capai mengulek bumbu dengan tangan, ada blender yang tinggal pencet jadi. Atau anak anak yang membuat mobil mobilan dari kulit jeruk, ada di Toy’r us dengan warna, suara dan kecepatan yang jauh lebih baik. Alasan yang tampak masuk akal untuk kepentingan diri kita yang sesaat. Tapi kita lupa dengan proses yang dipotong itu., berapa banyak MSG atau zat kimia yan dimakan dan disimpan di dalam tubuh. Racun yang kita masukan setiap hari ke tubuh kita. Berapa banyak bahan bakar yang habis menggantikan ulekan bumbu 5 menit. Bahan bakar yang didapat dari proses pengendapan fosil binatng laut jutaan tahun yang habis. Berapa banyak plastik dan materi materi lain yang tidak bisa didaur ulang dalam jutaan tahun, tetap menjadi sampah untuk banyak generasi sesudahnya? Tapi siapa yang peduli dengan proses yang panjang untuk menikmati hidup dan berkarya, pada jaman ini? Bahkan calon pemimpin juga lebih mempublikasikan diri dengan kumisnya dari pada janjinya sebagai pemimpin. “Colok kumisnya”, katanya. Atau nama nama yang harus diingat dari bupati bukan karyanya keluh seorang ibu yang melihat PR IPS putrinya. Dari kecil, generasi instant noodle yang penuh kemanjaan dan kemudahan ini lebih ditekankan bagaimana pentingnya sebuah nama, pentingnya peng’luar biasa’ an nama yang tidak dikenal dan selalu berganti. Pentingnya ‘short cut’. Dan pentingnya kepentingan yang sesaat. Lalu siapa yang peduli lagi dengan jalan panjang dengan airmata dan keringat untuk sebuah kepentingan yang lebih besar? Mungkin hanya orang orang aneh pada jaman ini, yang pada waktunya merekalah yang akan dekat di hati, menjadi teman akrab dan menghasilkan karya besar, abadi seperti Shakespeare yang suka keliru bagaimana mengeja namanya. What is the name?
iwanqq berkata
beberapa hal saya sependapat dengan Shakespeare.
Apalah Nama? Bunga mawar akan sama harumnya walaupun namanya lain.
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa nama saya sebelumnya adalah
Muhammad Zuhud Kurniawan (nama yang bagus bukan?), begitu pula dengan nama panggilan saya yang beragam: Uud, Iwan, Iyay, Ijang, Idang, Kiway, Jay, Ijay, Jey, Cep Iyay, Iyang, Encep, Asep, Iwk, bahkan di kantor orang memanggil saya dg Pak I, Aloy, Koh Aloy & Aliong, Koh Loiiy. Ancua Ko.
Yang penting bagaimana kita berlaku dengan dengan pribadi kita.
Tapi tentunya saya tidak egois, untuk ketiga putri kami, kami pilihkan nama nama yang cantik.
Roy Sukamto berkata
Apa arti sebuaj nama di jaman serba instant dan cepat ini? Namun dalam bukunya Jhumpa Lahiri berjudl The Namesake, diceritakan bahwa nasib dan jalan hidup seorang Indian-American ditentukan namanya, Gogol, yang diberikan bapaknya, seornag pencinta buku-buku karangan pengarang Rusia Gogol. Rupanya nama itu mengungkapkan semua tradisi dan jalan hidup orang tuanya dan yang akhirnya menjadi bagian juga dalam hidup si Gogol ini.
Mungkin orang2 “aneh” ini masih merasakan rasa “kemanusiaan” di jaman serba elektronik ini he..he…
Ida Retty Tampubolon berkata
Dear Tante Ida,
Tan rasanya lebih familiar dengan nyebut tante aja.
Met Ultah yah…. tgl 13 December kemarin.
Salut buat tante.
berbangga lah Jordan, Samuel dan Immanuel (alm) yang memiliki mama seperti tante.
Jangan heran, kalo ketabahan tante selalu menjadi ” kiblat ” ku dalam mengurus dan menghadapi anak.
Meski kita jauh, jarang ketemu dalam acara keluarga tetapi kabar tentang tante selalu kita tunggu.
Semoga berkat Tuhan Yesus Kristus selalu melimpah buat keluarga Tante dimanapun berada.
Salam dari jauh,
Ida Retty Tampubolon
Tony Roland SIlitonga berkata
Saya setuju Ito, karena memang yang diperlukan adalah nama RATU, RAJA, DEWA,…etc,…apalagi MEMANG hanya ada SATU nama yang perlu diingat terutama, Dia yang dapat memberi Penghiburan di waktu susah, Penyembuhan di waktu sakit, Perlindungan di waktu bencana,….NAMA ini juga yang selalu berkata bahwa semua yang terjadi adalah mendatangkan KEBAIKAN bagi semua yang DIA ciptakan,….HANYA ada satu NAMA,……yang eprlu diingat di Bumi maupun ketika kita kembali ke surga,……SATU NAMA SAJA,……