Balada Dua Puluh Lima Tahun Kebersamaan

 Oleh : Tachrul Tjondro

Tahun 2007 akan segera berakhir namun tidak untuk kebersamaan kita dua puluh lima tahun kebersamaan yang terbangun akan terus terangkai menjalin simpul-simpul batin mengukuhkan silahturahmi keluarga besar Psikologi UNPAD82kenanganos82-2.jpg

 …

Masih terbayang dalam ingatan pertama kali kita menjejakan kaki di Dago Pojok nampak sisa-sisa sebaran abu letusan Gunung Galunggung yang mulai menipis masih menyelimuti rerumputan hijau dan permukaan dedaunan dihalaman bangunan kuno dengan lorong-lorong dan selasar yang unik angin segar masih terasa semilir menyebarkan aroma pohon pinus dan cemara suara kicau burung masih nyaring terdengar diantara deru-deru kendaraan yang mulai merambah daerah yang hening dan indah dirangkaian bukit-bukit Dago diiringi sambutan hangat dan bersahabat dari civitas akademi Fakultas Psikologi UNPAD. Wajah-wajah kita yang ceria dan segar mulai saling bertemu, berkumpul dan menyapa menjadi perhatian dan sorotan para senior yang ingin tahu tampang adik barunya aneka aturan dan tata tertib mulai dikenalkan mereka kepada kita aneka reaksi mulai muncul, aneka perbedaan mulai terasa, aneka perlakuan mulai dikenakan meluluh lantakan keegoan kita terlebur jadi satu dalam prosesi orientasi diiringi hymne UNPAD, hymne Fapsi dan Godeamus melahirkan ikatan batin dan kebersamaan keluarga besar Psikologi UNPAD Angkatan 82

Waktu  bergulir tanpa terasa dalam kegiatan perkuliahan kekhasan dan kelebihan-kelebihan diantara kita  mulai terlihat rentang prestasi mulai terpapar tawa canda tetap mewarnai tahu Mang Ipit jadi favorit kita disaat jeda sedu sedan menyelingi hiruk pikuknya tugas perkuliahan menembus batas-batas pemahaman filsofi, anatomi dan aneka mahzab membentuk pemahaman perilaku manusia berdasarkan kemampuan kita masing-masing

 Kebersamaan dan persahabatan tak selamanya berlangsung satu persatu kawan-kawan kita mulai pergi di  awal perkuliahan, pertengahan hingga akhir kuliah perpisahan tak dapat dielakan namun kesedihan menjadi tak terasa tergantikan dengan kesibukan  kita masing-masing paper, tugas kelompok, mid semester, ujian, praktikum, laporan, kasuistik, stase dijurusan  dan skripsi menjadi keseharian kita ditambah lagi tugas perkembangan dewasa muda  terbentang dihadapan kita mencari nafkah untuk mandiri mencari kekasih hati , menikahi atau dinikahi kekasih hati, membina keluarga ataupun tetap sendiri, meniti karir, meraih prestasi, mencari eksitensi dan makna hidup. Semuanya berjalan terus ….terus…….dan terus tanpa henti menjadi bagian dari kehidupan  kita

Kebersamaan kita seolah sirna, hubungan diantara kita sesekali tersambung reuni, undangan hajatan, dan seminar menjadi ajang yang paling sering merekatkan kita komunikasi kita menjadi tanpa batas dengan hadirnya email dan telepon seluler, hubungan kita  menjadi lebih  menghangat dan akrab untuk sebagian dari kita namun belum untuk seluruhnya

Kawan, puji syukur kita panjatkan kepada Sang Pencipta yang telah mengizinkan kita untuk masih berbagi hingga kini kita masih bisa bertukar ceritera tentang anak, suami, istri dan aktivitas kita bisa terus berkarya  menerapkan pengetahuan psikologi diberbagai profesi kita masih bisa  menjalani kehidupan ini dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing yang mandiri untuk itu sudah sepantasnya  kita selalu ucapkan beribu-ribu kata terima kasih kepada Tuhan meskipun kampus kita tidak di Dago Pojok lagi

Dengan akan berakhirnya tahun 2007

bukan berati akan berakhirnya kisah haru birunya kebersamaan kita

dengan ide, harapan dan cita-cita yang mulai tercetus dan terus mengalir

kita tingkatkan kebersamaan ini melalui program partisipatif, edukatif dan social

semoga semua ini bisa terwujud dan perilaku kita bisa jadi kenangan anak-anak kita didalam menjalani kebersamaannya dengan ibu dan ayahnya yang menjadi bagian dari keluarga besar Psikologi UNPAD 82

yang selalu mampu menghadirkan senyum, tawa, canda dan kebahagian buat semua

Amin.

Sukatani, Cimanggis Depok

7 Desember 2007

1 Komentar »

  1. iwanqq berkata

    hiksss, saya jadi teringat sama Eddy Zainuddin Nur dengan kepala botak, kacamata frame jadul, pemikirannya yang radikal dan pake sepeda onta.

Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini · URI Lacak Balik

Tinggalkan sebuah Komentar