SUKSESNYA PARA PENIKMAT RUMAH

Oleh : Pangarsini Savitri

Kalau ada orang tanya apa yang paling David –seorang teman kerja-  inginkan saat ini. Jawabnya sudah pasti adalah ”pulang” ke rumahnya yang damai. Melihat istrinya yang keibuan dan murah senyum serta mendengar tawa si kecil yang baru berusia 9 tahun. Tetapi yang paling utama adalah mencurahkan seluruh beban pikiran selama di proyek kepada sang istri.

Pekerjaan Bapak David sebagai desainer produk di sebuah perusahaan IT adalah jenis pekerjaan yang menuntutnya harus sering pergi ke luar kota atau luar negeri untuk waktu yang lama. Berminggu bahkan sebulan penuh untuk urusan implementasi produk baru. Berbeda dengan hidup di rumah yang hangat, hidup jauh diperantauan yang dingin dan sepi punya cerita sendiri. Kultur baru, team baru, client yang banyak maunya serta merasa diri mereka selalu benar  dan kemampuan produk baru yang tidak sepenuhnya siap pakai (walaupun sudah pass QA). Mau bilang apa? Itu sudah resiko pekerjaan.

Sayangnya, begitu  tiba di rumah , bukan kedamaian yang David peroleh. Walaupun seluruh penderitaannya sudah dicurahkan kepada sang istri,  pikirannya tetap masih terasa berat. Khatarsis kepada istri pasti berguna tapi mungkin solusi nyata juga dibutuhkan. Sang istri memang mendengar dengan sepenuh hati tetapi kesulitan memberi masukan karena memang tidak memiliki pengetahuan tentang itu. Maka mulailah mimpi-mimpi buruk di proyek menghantui tanpa bisa dicegah. David mulai menjadi penikmat obat tidur. Kecemasan akan kegagalan di proyek baru, demand perusahaan yang rasanya harus dipikul sendiri dan wajah client yang berkerut-kerut karena tidak cocok dengan solusi yang ia tawarkan selalu menghantui. Bahkan berbagai gejala penyakit psikosomatis mulai datang ke tubuhnya dan menjadi kian parah seiiring dengan makin dekatnya waktu untuk kembali ke proyek.

Bagaimana ini? Mengapa rumah bisa tidak mampu meredam stress dari luar (pekerjaan)? Apa yang salah dengan rumah Bapak David ? Jawabnya adalah tidak ada yang salah dengan rumahnya karena rumah bukan tempat untuk melarikan diri dari kecemasan dan kegagalan di luar. Jangan berharap istri bisa menjadi figur konsultan seperti Gede Pama yang akan memberi the right solution for the problem.

Kegagalan dan kecemasan di lingkungan di luar rumah seyogyanya dituntaskan dahulu sebelum kaki kita menginjak keset ”welcome home”. Sehingga anak-istri tidak jadi korban –baik langsung maupun tidak langsung. Betapa tidak adil jika kita melampiaskan kemarahan pada anak istri atau menjadi sakit-sakitan sehingga tidak mampu menyenangkan anak-istri. Kalau kita begitu betah pulang ke rumah, mungkin kita harus membuka diri bahwa ”rumah” sebagai tempat yang nyaman dan penuh kebersamaan harus kita bangun pula di tempat kerja.  

Hikmah itulah yang aku petik dari kisah sukses Abi, juga seorang teman dari bagian desain produk. Proyek-proyek yang dipegang Bapak Abi hampir selalu sukses dan yang paling penting ia kelihatan menikmati tugas-tugasnya. Secara pekerjaan, sebenarnya yang dilakukan Abi dan David sama saja. List permintaan client sama panjangnya, kultur sama barunya dan client yang cerewet serta teman kerja baru   semuanya berpotensi membuat frustasi.

Abi juga orang rumahan, artinya  sama seperti David, ia punya rumah yang nyaman di Jakarta, istri cantik dan anak yang manis. Kembali ke rumah selalu jadi tujuan setelah bepergian ke luar Jakarta.

Mengapa bisa begitu berbeda?   Mereka berdua sama-sama orang ”rumahan” . Secara knowledge mereka setara. Achievement need ? Rasanya sama-sama tinggi walaupun keduanya bukan tipe manusia workalkoholic. Yang berbeda bisa jadi adalah cara mereka menikmati hidup di rantau.

Jika jauh dari rumah, Abi berusaha membangun suasana  ”rumah” di  perantauan. Seperti layaknya sebuah rumah yang penuh kebersamaan, ia tidak pernah mau merasa sendirian menanggung beban pekerjaan dan selalu melibatkan anggota teamnya untuk berbagi derita. Dead line proyek dan  tuntutan customer harus disosialisasikan dengan baik agar semua anggota team punya persepsi yang sama. Walaupun untuk menyamakan persepsi anggota team membuat mereka harus bekerja sampai malam-malam bahkan pagi. Tidur jam 2 pagi, bukan hal yang luar-biasa , kalau tidak mau disebut rutinitas. Tetapi mereka terlihat ”happy” karena beban ditanggung bersama-sama.  Ini jelas berbeda dengan David yang suka menanggung beban seorang diri karena merasa anggota team tidak capable untuk diajak diskusi.

Client –some how – harus diperlakukan sebagai anggota keluarga yang dimengerti kekhawatiran-kekhawatirannya sehingga pada akhirnya -atas kesadaran sendiri – belajar menekan complain dan ikut memikirkan masalah bagaimana software baru ini bisa diimplementasikan dengan mulus.

Kultur baru ditaklukkan dengan membaur dan menerima kultur tersebut apa adanya tanpa merugikan diri sendiri. Dimulai dari hal-hal yang perifer sampai ke kebiasaan setempat. Sama seperti kita mencoba memahami mengapa istri kita lebih suka baca buku daripada nonton Jazz di Ancol. Dan pelan-pelan- dengan suka-rela kita mulai mengurangi acara nonton Jazz di Ancol supaya bisa bersama istri. Mungkin tidak bisa jadi kutu buku tetapi paling tidak kita bersama ada di rumah.

Begitulah Abi mulai mencoba memakai baju batik setiap hari Jumat atau baju barong seperti layaknya kebiasaan di tempat kerja client. Mencoba  belajar main bilyar dan menikmatinya sehingga bisa tertawa bersama-sama jika bola putih masuk ke lubang.

Kesuksesan tidak pernah diperoleh sendirian melainkan merupakan kerja-sama team. Masalahnya bagaimana jika orang-orang di team terdiri dari character-character yang sulit . Diproyek David, penyakit salah-salahan pun (kambing-hitam) datang. Satu demi satu orang dikeluarkannya dari proyek karena dinilai tidak capable atau tidak bisa berkomunikasi (karena banyak informasi tidak diupdate kedirinya) . Dilain tempat, Abi mencoba melihat masalah sebagai sesuatu yang harus diselesaikan bersama, layaknya keluarga. Bekerja terlalu serius kadang membuat ide-ide kreatif tidak berani menampakkan diri. Sama seperti seorang ayah yang galak minta ampun dan penuh punishment. Hampir bisa dipastikan anaknya menghindar.

Mungkin kalau David mau lebih membuka hati, seperti Abi, hidupnya akan lebih nikmat dan tidak sendirian. Membangun suasana kerja di proyek menjadi sebuah rumah yang penuh dengan kebersamaan. Mendiskusikan setiap masalah bersama dengan arahan dari team leader adalah usaha untuk itu.

Tanpa maksud menggurui, cerita ini hanya  sekelumit pengalaman dari hidup yang sudah dilalui. Betapa segala-sesuatu harus kita nikmati, atau kita desain ulang agar bisa dinikmati. Lingkungan kerja dibuat sedemikian rupa agar bisa menimbulkan perasaan ”betah” dan penuh kebersamaan seperti halnya sebuah rumah. Semua aspek yang bisa menimbulkan perasaan ”homey” pasti menolong untuk para pekerja di perantauan. Hanya satu pesan, tolong jangan cari isteri baru di parantauan. Cukup satu saja di Jakarta.

& Komentar »

  1. tachrul tjondro berkata

    Hi Ni

    Setelah baca tulisan ini jadi inget makna …… home sweet home…..

    salam

    TT

  2. Roy Sukamto berkata

    Halo Nini,

    Wah jadi inget jaman proyek nih……. Tapi tulisan ini mengingatkan saya akan sebuah film berjudul Into the Wild. Film ini menceritakan kisah hidup Christopher McCandless, seorang sarjana yang pintar. Dia mengejutkan orang tuanya dengan mendonasikan tabungannya, yang tadinya diperuntukan untuk kuliah master study di harvard, sebanyak $24,000 ke pada Oxfam. Dia menbuang semua miliknya dan mencoba bersatu dengan alam untuk mendapatkan hidup yang penuh kebahagiaan sempurna tanpa tergaantung pada uang dan karir – sesuai dengan ide pahlawan2nya Henry David Thoreau, Leo Tolstoy and Jack London.

    Dia yang berpendapat bahwa kesenangan hidup dapt diperoleh dengan berada sendirian dengan alam, pada akhir hidupnya yang tragis menulis dalam buku hariannya bahwa “HAPPINESS IS REAL WHEN SHARED”.

    Ceritamu mengingatkan akan pesan tadi.

    Salam.
    RS

Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini · URI Lacak Balik

Tinggalkan sebuah Komentar