SKETSA SAAT HUJAN DI MEGAPOLITAN JAKARTA

Oleh : Tachrul Tjondro

Langit yang terang ditengah hari berangsur-angsur meredup    ditimpa gumpalan awan mendung yang semakin lama semakin  menghitam. Beribu-ribu orang bahkan sampai jutaan orang   yang  berpijak ditanah megapolitan Jakarta menengadah  menyongsong kehadirannya sambil menghela nafas panjang.  Nampaknya hujan deras akan segera turun dan bila sudah seperti itu dapat dipastikan bahwa kawan-kawannya si hujan yang tak tahu diri itu akan datang secara perlahan dan mampu menghanyutkan bahkan menenggelamkan apa saja yang menolak kehadirannya..  Orang-orang itu secara otomatis tanpa dikomando terutama kaum ibu dan wanita bergegas-gegas mengemasi dan memindahkan barang-barang serta harta benda lainnya  ketempat yang aman dari siraman derasnya siraman hujan maupun seretan air hujan.
 
Kilatan petir diiringi suara halilintar mulai terlihat dan terdengar. Rintik  hujan perlahan-perlahan berubah semakin melebat. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Jendela-jendela rumah mulai ditutupi. Dalam sekejap tak ada lagi orang yang beraktivitas terbuka dibawah langit yang gelap. Para ibu memanggili anak-anaknya untuk masuk kerumah. Para pedagang kaki lima menyelimuti dagangnya serapat mungkin. Deru mobil dan bisingnya suara sudah tak terdengar lagi terkalahkan suara hujan yang semakin melebat. Laju kendaraan dijalanan mulai dikurangi oleh para pengemudi. Jalan-jalan yang berada dibawah jalan susun mulai dipenuhi para pengendara motor yang berteduh. Semakin banyak orang berteduh semakin sempit ruas jalan yang tersisakan untuk kendaraan lain yang melaju. Kawan-kawannya si hujan sudah mulai datang. Air mulai mengenang dan secara perlahan semakin tinggi. Mobil-mobil yang ada diseluruh ruas jalan mulai berhenti. Sumbatan terjadi dimana-mana. Dalam saat yang sama orang menghela nafas panjang. Terbayangkan waktu yang akan terbuang dan kesia-sian dalam menunggu redanya hujan dan hilangnya sumbatan kemacetan. Gerutuan, umpatan, obrolan yang tak berujung pangkal, sapaan dari telepon genggam, suara musik, suara penyiar diradio sudah menjadi sesuatu yang tak asing dilihat. Kegeraman mulai terpancarkan diwajah-wajah mereka, namun tidak untuk orang-orang yang saat itu mensyukuri akan  hadirnya rahmat dari sang pencipta melalui hujan meskipun air menggenangi mereka dimana-mana. Wajah mereka tetap tenang. Mulut dan batinnya tak pernah berhenti berdoa untuk keselamatan dan kelancaran dalam menjalani kehidupan hari ini. Juga masih terdengar tawa bahagia anak-anak penjaja jasa payung dan orang-orang yang mendorong kendaraan yang mogok karena banjir. Tukang gorengan laris manis. Penjaja bakpao dipintu masuk tol berlari pontang panting menghampiri lambai tangan dari mobil-mobil yang diam mengantri. Nampaknya disaat hujan mereka dapatkan rizki untuk menyambung hidup disaat teriknya panas matahari.
 
Sudah hampir satu jam hujan belum juga reda. Kepanikan mulai terjadi dipemukiman-pemukiman. Listrik mulai padam. Air hujan mulai menggenangi jalanan dan dalam waktu yang singkat sudah mampu mengangkat kursi-kursi dan perabotan rumah. Semua barang-barang mulai bergerak dan bergelimpangan. Jeritan anak dan wanita, juga teriakan orang kepanikan mulai terdengar. Upaya mereka mengungsikan barang sebelum hujan sudah tidak ada artinya. Air sudah tidak bisa dibendung lagi meraih apa saja ditempat ketinggian manapun. Semua orang mulai keluar membawa apa saja yang bisa dibawa ketempat yang lebih tinggi. Dalam sekejap tempat penampungan dipenuhi desakan orang yang mencari tempat yang aman dan kering untuk berteduh. Tangisan bayi dan teriakan orang-orang semakin keras berbaur dalam hiruk pikuknya teriakan pencarian kenyamanan dan keselamatan dalam derasnya hujan. Semua orang sibuk dengan keselamatan dirinya dan keluarganya. Demikian juga aparat yang berwenang, tak kuasa untuk menjalankan tugasnya. Mereka dalam kesulitan yang sama. Kepandaian mereka menjadi tumpul dan tak berdaya. Aneka jurus penyelamatan yang dilatihkan pada saat tidak banjir tidak berlaku lagi. Kenyataan berbeda dengan teori saat latihan.  Lagi,  umpatan-umpatan begitu ringannya keluar dari setiap mulut yang mengalami derita disaat banjir. Sumbangan yang datang tak pernah mencukupi dan tak mampu menenangkan kegundahan dan kemarahan semua warga.  Semua kebaikan yang datang dicerca dan dihujat. Tak terlihat sedikitpun rasa terima kasih saat pertolongan tiba, yang ada hanya kemarahan dan kemarahan. Pada saat yang sama dibagian lain dari megapolitan Jakarta didalam gedung-gedung pencakar langit nampak para petinggi dan pemegang kuasa berbusa-busa berdebat dan berebut melahirkan teori dan rencana untuk kepentingan mereka sendiri. Terkadang masih terdengar bahak mereka disela-sela hujan yang deras mentertawakan hiruk pikuknya derita banyak orang.
 
Hampir dua setengah jam hujan mulai mereda, namun tidak langsung diikuti dengan surutnya air. Para lelaki mulai meninggalkan tempat penampungan untuk menengok harta benda mereka dirumah masing-masing. Wabah diare begitu cepat merebak di dimana-mana. Banyak anak-anak dan balita yang terserang. Pasalnya air bersih sulit didapat dan hajat manusia berbaur dengan air yang menggenang menjadi penyebab utama. Saat itu jutaan orang yang menderita lebih banyak dibandingkan orang bahahagia. Mereka sudah tak tahu lagi, kepada siapa lagi mereka berharap untuk bisa merasakan nikmatnya berteduh disaat musim hujan tanpa harus dibayangi kecemasan dan ketakutan akan derita ditempat penampungan. Tuhan dimata mereka seakan sudah tak dipercaya lagi. Kegamangan akan pertolonganNya mulai menggerogoti hati mereka dari waktu kewaktu. Orang dermawan dengan berbagai latar tujuan menjadi tumpuan harapan bukan lagi Tuhan mereka.
 
Malam telah tiba.Jalanan masih banyak yang digenangi air dan mulai surut perlahan. Lalu lintas mulai bergerak lambat. Lampu mobil yang dipancarkan membuat guratan cahaya yang indah dari gedung-gedung pencakar lagit.  Denyut aktivitas anak-anak manusia dimegapolitan Jakarta mulai mengeliat lagi. Orang mulai berbenah lagi nampak seperti tidak terjadi apa-apa. Orang yang menderita mulai bisa melupakan kemalangannya. Orang yang tak tersentuh banjir seolah  tak merasakan adanya penderitaan disekitarnya. Hingar bingar musik dan lantunan merdu hasil karya pekerja seni mengalun lagi. Penjaja bakpao, tukang gorengan serta anak-anak penjaja jasa pulang dengan riang gembira walau tahu rumah mereka sudah tergenang air hingga sebahu orang dewasa. Semua aparat mulai berteori lagi dan mengunakan biaya anggaran untuk kepentingan yang berbau pribadi dan membantu dengan sigap pada pihak yang jelas imbalan keuntungan yang didapatnya. Tak ada lagi upaya nyata untuk atasi derita yang berulang. Semua sibuk mencapai tujuan masing-masing. Pengerukan tanah, pembangunan gedung, pembangunan sarana dan fasilitas berlangsung tumpang tindih mulai berlangsung lagi. Kesemrawutan  muncul ada dimana-mana. Seakan tak ada yang mampu mengendalikan. Semua menjanjikan akan hadirnya sebongkah harapan untuk menyambung hidup. Derita tiada  akhir boleh bergulir, namun harapan untuk bertahan masih menggumpal bak gunung es dikutub utara. Kehidupan dibelantara megapolitan terus berlanjut hingga turunnya hujan dihari-hari mendatang yang tak pernah ada seorangpun yang tahu dengan pasti kapan datang dan perginya sang hujan.
 
 
Sukatani, Cimanggis. 4 Desember 2007
Tetesan air hujan dari talang air masih  terdengar halus menimpa daun pakis dibawah jendela kamarku.

1 Komentar »

  1. Nini berkata

    Dudu dan kaca-mata romantismenya!! Ngga ada duanya deh … Mengalirnya pelaaaan, hati-hati dan halus kayak kapas… Kalau pater Brouwer masih hidup, pasti beliau setuju sama aku. Kalau hujan, kamu itu seperti gerimis seharian… Terus nulis yaa, Du… Terus-terang aku pengen banget baca tulisan kamu tentang suka-dukanya hidup sendiri.

    Salam.

Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini · URI Lacak Balik

Tinggalkan sebuah Komentar