SEPATU DAN NYANYIAN

By Tiurida Hutabarat untuk Immanuel yang sekarang sudah jadi malaikat Nov 2007

Begitu banyak doa agar sepatu itu  cepat usang 

karena kau pakai berlari dan bergaya.

Begitu banyak lagu dinyanyikan dan buku dibacakan

 agar kau bisa berkata mama

dan kita akan bercerita banyak sesudahnya.

Kau terlahir begitu khusus.

 Disini dan saat ini tidak pernah datang

Sepatumu masih tersimpan dalam kotaknya

Bahasamu masih bahasa malaikat yang tidak kumengerti

Disana,  suatu saat, aku yakini

Akan mendengarmu menyanyi, suaramu sangat merdu nak…

Melihatmu menari, sepatumu terlihat usang. 

Kau perlu yang baru nak ? tidak mama katamu, aku sekarang  bisa terbang. 

& Komentar »

  1. tachrul tjondro berkata

    Tiur dan bang Holan
    Meski aku belum berkeluarga dan punya anak, aku bisa merasakannya arti suatu kehilangan. Anak adalah buah kasih diantara dua orang yang saling mencintai, tapi kita tak kuasa untuk menghadirkan seperti yang kita mau dan kita tak kuasa menahannya bila Sang Penguasa Jiwa menghendaki ia kembali. Simpanlah ia selamanya dalam hatimu, niscaya ia akan selalu bersamamu.

    Salam

    TT

  2. Nini berkata

    Setiap kali baca puisi ini aku pengen nangis. Selalu kebayang wajahnya Iman dan kamu. Apa yang kita lakuin bersama Iman di jam istirahat kantor waktu masih sama-sama di MPC. Sepatunya Iman. Suaranya Iman yang parau. Thanks God… Aku punya kesempatan buat ngeliat dan ngerasain smua itu.

  3. iwanqq berkata

    hening … karena mata berkaca-kaca.
    karena mulut terkatup.
    karena tenggorokan serasa tersekat, seakan mengunci suara
    dengan pita-pitanya sendiri.
    yg terdengar hanya degup jantung yang seolah berlari.

    baca sambil menangkupkan kedua tangan diwajah dan kedua sikut menyangga wajah.

Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini · URI Lacak Balik

Tinggalkan sebuah Komentar